Work Less, Play More


“French women don’t get fat. Dutch women don’t get depressed.”

Sebagai penghuni salah satu negara paling bahagia di dunia (peringkat keempat menurut World Happiness Report), para wanita di Belanda dikenal memiliki kualitas hidup yang sangat baik. Kebanyakan wanita di negara Belanda lebih menyukai opsi kebebasan berekspresi daripada kesuksesan dalam pekerjaan. Menurut survey OECD (Organisation of Economic Co-operation and Development), hampir 60 persen wanita yang berumur 25-54 tahun di Belanda memilih bekerja paruh waktu. Bandingkan dengan jumlah pekerja wanita paruh waktu di  Amerika Serikat  yang hanya 15 persen, di Prancis 25 persen, dan 35 persen di Jerman.

Para wanita di Belanda mengembangkan diri sesuai cara mereka sendiri. Mereka tidak meninggalkan anak-anak di rumah dan bekerja di kantor seharian seperti yang dilakukan banyak wanita di negara maju, yang mereka sebut sebagai emansipasi. Psikolog Ellen de Bruin mendefinisikan stereotip wanita Belanda sebagai kecantikan alami yang tak mau ribet mengikuti mode, suka mengendarai sepeda ke toko, memiliki waktu menyenangkan bersama anak-anak dan suami, mengikuti kelas seni, dan menghabiskan sore dengan menyeruput kopi bersama teman-temannya.

Gambar diambil dari http://www.bear-bicycles.com/cycling-blog/page/2

Jika dikaitkan dengan prinsip feminisme yang sangat menganjurkan wanita bekerja dalam rangka mencapai kesetaraan gender, sikap kebanyakan wanita Belanda tersebut sangat bertolak belakang. Marie-Lousie van Harren, salah satu wanita Belanda yang bekerja paruh waktu, berargumen bahwa wanita Belanda tidak ingin menduduki posisi puncak dalam pekerjaan karena  mereka tidak mau mengikuti nilai-nilai yang dianut dunia saat ini. Marie-Lousie menyebutnya sebagai gerakan perlawanan gerilya. “Mungkin ini akan menjadi feminisme gelombang keempat. Saya percaya bahwa suatu hari para wanita akan terbangun dan menyadari bahwa hidup tidak melulu demi materi, kuasa, dan status. Banyak wanita Belanda yang saya tahu hidup sesuai cara mereka sendiri, santai tetapi tetap merasa bahagia secara fisik dan mental.”

Joost Spijker, diretur Talent & Result, dalam salah satu wawancara oleh Radio Netherland Worlwide menyatakan bahwa orang Belanda sangat menyadari bahwa banyak yang lebih berarti dalam hidup ketimbang bekerja saja. Mereka memilih menjadi relawan dan merasa menemukan kepuasan batin.

Bekerja paruh waktu membuat mereka memiliki waktu yang lebih berkualitas bagi diri sendiri, keluarga, dan sahabat. Juga mengurangi resiko stres akibat tekanan pekerjaan, yang akhirnya berujung pada pencapaian keseimbangan antara kepuasan diri, keluarga, dan pekerjaan. Keseimbangan tersebut menjadi salah satu indikator penting mengapa OECD pada tahun 2011 menobatkan Belanda sebagai negara terbaik kedua dalam Work-Life Balance.

foto diambil dari http://www.sneijers.net/718/netherlands-has-shortest-working-week/

Hasil survey OECD menyebutkan bahwa pekerja Belanda memang bekerja lebih sedikit daripada warga negara-negara Uni Eropa lainnya. Jam kerja orang Belanda rata-rata adalah 30,6 jam per minggu, padahal rata-rata jam kerja orang Uni Eropa adalah 37,5 jam per minggu. Bandingkan dengan pekerja di Amerika Serikat yang menghabiskan lebih dari 40 jam per minggu berkutat dalam pekerjaan. Meskipun begitu, produktivitas masyarakat Belanda sangat tinggi dan menempati peringkat keempat di antara negera-negara Eropa. Mereka mampu mewujudkan mobil terbang (PAL-V), mengembangkan partikel majorana, menciptakan vibration energy, dll. Mengapa bisa terjadi? Sebab kreatifitas tidak ditentukan dari kuantitas tapi kualitas.

Nah, sekarang matikan laptopmu. Ayo bersepeda! :)

Sumber bacaan:

http://www.dutchdailynews.com/world-happiness-report-ranks-netherlands-4th-happiest-nation-in-the-world/

http://www.economist.com/blogs/democracyinamerica/2010/11/dutch_feminism

http://oecdbetterlifeindex.org/countries/netherlands/

http://bli.oecdcode.org/topics/work-life-balance/

http://www2.macleans.ca/2011/08/19/the-feminismhappiness-axis/

http://www.rnw.nl/english/video/dutch-workers-are-efficient-not-lazy

http://stuffdutchpeoplelike.com/

http://www.bbc.co.uk/news/magazine-17155304

My birthday wishlist


1. A paperclip to hold my things together

2. An eraser to fix all my small mistakes

3. A lock to keep my secrets safe

4. A camera to capture all my dreams, and

5. A bunch of love


When you do something with passion, the result can be better than you expected

- I Made Andi Arsana

Obrolan Ringan tentang Edensor & Poskolonialisme


 

Tengah malam, tanpa ketemu ujung pangkalnya, saya dan Handini Suwarno mengobrol tentang poskolonialisme. Handini adalah seorang maniak posko, skripsinya mengkaji tentang posko, dan buku-buku favoritnya mungkin karya Edward Said, hehe.. Sedangkan saya peminat cultural studies, yang lebih berorientasi pada kajian konsumerisme, lifestylisasi, semiotika dan media culture. Ini bukan obrolan yang sepadan mengingat tipisnya pengetahuan saya tentang posko dibanding Handini.

Ia bilang ingin mengkaji Edensor karya Andrea Hirata dalam kacamata poskolonialisme, yang serta merta saya tertawakan. “Emang masuk yak?” tanyaku waktu itu. Dalam pikiran saya, kajian posko pasti selalu berkutat pada novel-novel bertema sejarah atau penjajahan, dan  yang nggak “bersejarah” itu tak mungkin bisa dikaji dengan posko. Handini mengajukan argumen yang hanya saya dengarkan saja tanpa bantahan sebab saya nggak menguasai medan, hehe…

Setelah berdiskusi dan berdebat sampai mata kedip-kedip. Saya sampai pada kesimpulan bahwa ada beberapa poin yang bisa dijadikan alasan mengapa Edensor layak dikaji dalam kacamata posko yaitu;

  • Edensor berkisah tentang anak kampung yang berjuang mewujudkan mimpinya untuk kuliah ke Eropa (Sorbonne, Prancis) dan ini berarti bahwa ada pikiran bawah sadar dalam diri tokoh bahwa untuk memperoleh pendidikan yang bagus, ia harus mendapatnya langsung dari Eropa yang diasosiasikan sebagai pusat peradaban bermula. Dalam novel, tokoh beberapa kali menyebut Sorbonne sebagai altar suci peradaban. Hmmm.. bukankah ini berbau posko? hihi..
  • Yang punya Edensor, harap buka halaman 103, temukan paragraf berikut; “Sisanya selalu terlambat, berantakan, dan tergopoh-gopoh adalah The Pathetic Four–empat makhluk menyedihkan–penghuni jejeran bangku paling depan. Jika dosen menjelaskan mereka berulangkali bertanya soal remeh temeh, sampai menjengkelkan. Anak-anak ini melengkapi diri dengan perekam agar petuah dosen dapat diputar lagi di rumah. Norak dan repot sekali. beginilah akibat pengguasaan bahasa asing ilmiah yang memalukan dan efek gizi buruk masa balita. Jika ide mahasiswa lain demikian besar sampai ingin mengubah Prancis, ide The Pathetic Four sangat sederhana, yaitu bagaimana agar dapat nilai passable yaitu cukup, lulus seadanya dengan nilai C-, tak perlu mengulang, sehingga dapat menghabiskan waktu sejadi-jadinya menonton sepakbola.” Bukankah paragraf tersebut secara tidak langsung menunjukkan inferiority tokoh sebagai orang “dunia ketiga” di antara kawan-kawan “hebatnya” yang dari Eropa? Posko lagi kan? :)
  • Sebagai tambahan Handini mengirimiku sms; Gw pernah baca kalau kau datang ke barat untuk melakukan penelitian, di mana naskah-naskah yang seharusnya jadi milik negerimu berada di negeri orang lain, berarti kau dalam kasus inferior.

Kami masih belum selesai berdebat tentang Edensor dalam posko, karena kantuk yang tiba-tiba menyabotase obrolan kami. Tulisan ini hanya analisis ringan dan belum layak di-makalahkan. Perlu kajian lebih lanjut, bacaan dan referensi buku seabrek, serta diskusi-siskusi panjang.

Ada yang tertarik mengkajinya? :)

The boy was engaged


Image

Seorang sahabat, Handini Suwarno, suatu hari pernah berkata “Kita mudah melupakan orang yang pernah berkata Aku Benci Kamu, tapi akan sangat sulit melupakan orang yang pernah berkata Aku Cinta Kamu.” Mungkin kalimat itulah pendorong semangat Handini sehingga ia berani mengatakan SUKA pada lelaki itu (sensor hihi..).

Ini bukan cerita tentang kisah cinta Handini. Aku mengawali tulisan ini dengan mengutip kalimat di atas karena hari ini mendadak aku teringat pada seorang lelaki, sebut saja San.

Masa remajaku yang ababil sangat warna-warni, aku bertemu berbagai macam karakter yang tidak semuanya cocok kujadikan teman, beberapa dari mereka bahkan menjadi musuh. Masa remajaku pun tak semuanya menyenangkan, ada bullying, konflik dan persaingan ala remaja. Tapi hingga bertahun-tahun kemudian, saat aku mengingat-ingat masa remajaku, yang tergambar jelas di memoriku hanya kejadian-kejadian lucu dan menyenangkan. Aku lupa siapa orang yang pernah berkata ia membenciku, aku bahkan teringat San.

Hampir sepuluh tahun yang lalu ketika umurku baru menginjak belasan tahun, San adalah lelaki pertama yang menulis surat berisi kata-kata merah jambu, yang dititipkan pada temannya dengan malu-malu, buatku. San seingatku pernah memberikan sekotak coklat yang diberikannya dengan ragu-ragu, lalu kumakan semuanya sambil tergelak-gelak dengan geng-ku. Dan San dalam ingatanku punya sekumpulan geng yang selalu berkoar-koar menyebarkan berita bahwa San menyukaiku, hingga satu sekolah bahkan guru-guru pun tahu.

Ia selalu setia menyukaiku selama tiga tahun itu. Sebagai gantinya, akulah orang yang selalu berkoar-koar mengatakan bahwa aku membencinya. Bahwa dengan menyukaiku, San telah menggangguku dan aku tak butuh ia sukai.

Aku tak pernah lagi bertemu dengan San sampai bertahun-tahun lamanya, hingga kita bertemu di facebook. Ia sudah menjadi lelaki dewasa, dan aku tak lagi seorang abege labil (ahahaha). Pertemanan kami di facebook bisa dibilang biasa-biasa saja. Aku jarang menjumpai status-statusnya di timeline. Kami juga tak sering mengomentari atau menyukai status masing-masing. Meski menjadi teman di facebook, realitanya kami tak pernah berteman.

San. Ia memang bukan bagian penting dalam hidupku sekarang. Tapi aku akan selalu mengapresiasi keberaniannya menyukaiku bertahun-tahun lalu, di saat aku belum mengerti bagaimana cara menyukai seseorang, juga bagaimana cara memperlakukan orang yang menyukai kita. Aku berterima kasih karena ia pernah menyukaiku, membuatku tahu bahwa aku pantas untuk disukai. #eaaaaa!

Congratz San, for your engagement ^^v

Kompetiblog 2012


Image

Tentang Kompetiblog 2012

Kompetiblog Studi di Belanda adalah kompetisi menulis blog yang diadakan oleh Neso Indonesia. Kegiatan ini bersifat rutin dan tahun 2012 adalah tahun ke-4 penyelenggaraan Kompetiblog Studi di Belanda. Tulisan peserta memuat pengetahuan, pendapat serta pengalaman individu sesuai dengan tema yang ditetapkan oleh panitia. Dua orang pemenang utama kompetisi ini akan berkesempatan mengikuti summer course di Utrecht Summer School, Utrecht, Belanda selama dua minggu.

Tema kompetisi:
“Dutch Creativity”

Holland is a creative nation. Dutch people enjoy innovating and constantly ask themselves and others questions to come up with new ideas. How is this creativity reflected in the Dutch education?

-  Peserta dapat menerjemahkan tema dan menggunakan berbagai pendekatan.

Waktu kompetisi:
16 April – 15 Mei 2012

Hadiah:

1. Summer course di Utrecht Summer School, Belanda (2 orang)

2. Smartphone (1 orang)

3. Digital camera (1 orang)

Terms & Conditions:

Terms:

1. Warga Negara Indonesia dan berdomisili di Indonesia saat mengikuti kompetisi ini

2. Usia antara 17-40 tahun pada saat mengikuti Kompetiblog 2012 dan Summer Course di Belanda

3. Belum pernah menempuh studi di Belanda (Bachelor, Master, PhD atau Short Course)

4. Mendaftar dan melengkapi data-data yang diperlukan (klik di sini)

5. Memiliki paspor yang masih berlaku atau siap digunakan pada saat keberangkatan ke Belanda (Juli 2012)
Conditions:

1. Batas waktu Kompetiblog Studi di Belanda adalah 15 Mei 2012

2. Masing-masing peserta bisa membuat maksimal 3 artikel dan masing-masing artikel memiliki maksimal 500 kata saja

3. Artikel dapat ditulis dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris

4. Tulisan yang dikirimkan setelah tanggal 15 Mei 2011 pukul 23.59 WIB tidak akan diproses oleh tim juri

5. Pengumuman pemenang kompetiblog akan diumumkan melalui blog Kompetiblog,Studi di Belanda, dan website Neso Indonesia. Pemenang akan dihubungi langsung oleh pihak panitia

7. Keputusan dewan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat

8. Panitia berhak menyeleksi semua tulisan yang masuk dan berhak tidak mempublikasikan tulisan yang mengandung muatan SARA, politik, atau unsur lain yang dinilai kurang pantas dan kurang sesuai dengan etika dan tema Kompetiblog Studi di Belanda

9. Sebanyak 10 (sepuluh) entri pertama yang masuk akan mendapatkan hadiah menarik dari panita