Monolog Kemerdekaan, Putu Wijaya


Suatu keberuntungan besar, hari ini (Jumat, 24 Oktober 2008) aku bisa menyaksikan pementasan monolog oleh Putu Wijaya. Pementasan ini rangka bulan bahasa yang diselenggarakan oleh Pusat Bahasa ini dipentaskan di aula gedung Samudra Pusat Bahasa. Kubilang keberuntungan besar, karena sangat jarang sekali aku memiliki kesempatan menonton pertunjukaan sang maestro teater Indonesia itu, apalagi kali ini gratis. Sekali lagi, g-r-a-t-i-s-!

Aku tidak tahu apa judul monolog yang dibawakan Putu, karena aku datang telat. Dan ketika masuk ke dalam ruangan pementasan, di panggung depan sudah terlihat latar hitam yang dilapisi kain putih di tengah-tengahnya. Di tengah panggung terdapat sebuah kursi—modelnya mirip bangku sekolah, seikat sapu lidi didirikan terbalik di sebelahnya, satu buah tongkat kayu yang tersandar di kursi, dan sebuah sangkar burung dari bambu tergantung tepat di atasnya. Kemudian sebuah bendera merah-putih diikatkan di tiang, tegak berdiri di kiri depan panggung.

Lampu dimatikan, hanya gelap yang menyelimuti. Tak berapa lama kemudian lampu menyorot tubuh Putu yang berdiri di tengah-tengah panggung. Sebuah handuk kecil berwarna biru tersampir di pundaknya. Suara serak Putu terdengar; tegas, berat, dan serak. Suaranya seolah magnet yang mampu membungkam mulut-mulut penonton yang gaduh dan berisik. Dan ia pun mulai bertutur.
Tersebutlah seorang kakek bekas pejuang kemerdekaan yang turut merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Momen paling mengharukan bagi kakek pejuang itu adalah saat-saat peringatan kemerdekaan, tanggal 17 Agustus. Di hari tersebut, ia bisa mendengar lagu-lagu kemerdekaan dinyanyikan di televisi-televisi dan radio. Ia haru dan bangga akan kemerdekaan yang telah diraih oleh bangsa Indonesia.

Namun, cucunya bertanya, “Kakek, apakah arti kemerdekaan itu?”
“Apa? Kamu tidak tahu apa arti kemerdekaan?”
“Kenapa kamu tanyakan itu, cucuku?”
“Apakah tidak boleh aku bertanya?” tanya cucu. “Semua orang bertanya, apakah arti kemerdekaan. Mengapa aku tidak boleh bertanya seperti itu juga?”
“Apa artinya kemerdekaan jika masih ada orang yang kelaparan, sekolah mahal?”
“Baiklah cucuku, agar kamu tahu apa arti kemerdekaan itu, akan kuceritakan sebuah kisah,” ujar kakek bekas pejuang.

Alkisah ada seorang Pak Tua yang mempunyai dua ribu lima ratui burung perkukutut. Suatu ketika, ia ingin memberi hadiah kepada salah seekor perkututnya yang telah setia menghibur hari-hari Pak Tua dengan siulannya yang nyaring dan indah, kuuukutekuukuu…!

Begitu sayangnya Pak Tua pada burung perkututnya itu, ia ingin memberikan sebuah hadiah yang besar, yaitu kebebasan dan kemerdekaan. Dibukanya sangkar perkutut itu dan ditunjukkannya burung itu kepada hamparan langit biru yang luas. “Di sanalah, di langit yang luas itulah kemerdekaan berada. Terbanglah ke sana perkututku, terbanglah!”

Tapi perkutut itu tidak mau pergi dari sarangnya, ia menolak terbang ke angkasa. Ia ingin tetap tinggal di dalam sangkarnya. “Tidak, aku tidak mau kau bebaskan,” tolak perkutut. “Bagaimana kalau ada pemburu yang menembakkau? Bagaimana kalau ada kucing yang menerkamku? Aku akan mati. Bertahun-tahun aku berada dalam sangkar ini, aku tidak terbiasa menghadapi alam bebas. Di sangkar ini, kau beriku makan, kau beriku minum. Kalau di alam bebas sana, bagaimana aku akan makan dan minum? Aku akan mati,” rengek perkutut.

Pak Tua tetap membujuk perkutut itu, tapi walaupun Pak Tua itu sudah membujuk dengan berbagai cara, perkutut itu tetap tidak mau keluar dari sangkarnya. Akhirnya Pak Tua kehilangan kesabaran. Ia marah. Dibantingnya sangkar itu ke udara. Dipukulnya dengan tongkat dan ia hujani dengan batang-batang sapu lidi. Kemudian ia melemparkannya ke tanah tanpa ampun. Brak!

Akhirnya, perkutut itu keluar juga dari sangkarnya tetapi ia tidak terbang tinggi ke angkasa. Malah dengan tiba-tiba ia menabrakkan diri ke sangkar yang telah rusak itu. Perkutut itu pun jatuh terkulai tak berdaya di tanah.
Melihat kejadian itu, Pak Tua sangat menyesal. Dengan bercucuran airmata, ia mengiba pada tuhan.

“Tuhan, maafkan aku karena aku terlalu memaksakan kemerdekaan kepada perkututku, sehingga mengakibatkannya mati konyol seperti ini. Tuhan, sekarang aku memperoleh pelajaran bahwa kemerdekaan yang diberikan terlalu cepat, kemerdekaan yang diberikan kepada orang yang tidak menghargai kemerdekaan, adalah kemerdekaan yang tidak akan menimbulkan kebahagiaan tapi hanya mengakibatkan penderitaan semata. Mulai sekarang aku akan memberikan kemerdekaan yang sebenarnya kepada perkutut-perkututku,” ujar Pak Tua sambil terisak-isak.

Lalu pak tua itu membuka semua pintu sangkar perkututnya, semuanya. Dua ribu lima ratus sangkar. “Perkutut-perkututku lihatlah langit di sana! Carilah kemerdekaan kalian sediri.”

Perkutut-perkutut itu berkicau riuh, kuukutekuukuu… kemudian mulai mengepakkan sayapnya, terbang menuju angkasa bebas—termasuk juga perkutut yang tadi jatuh terkulai ke tanah, ternyata perkutut itu hanya pura-pura mati. Beberapa saat setelah kedua ribu lima ratus perkutut itu terbang, secara serentak mereka ngising di udara, tepat di bawah Pak Tua. Tai kedua ribu lima ratus perkutut itu menghujani sekujur tubuhnya. Tapi walaupun begitu, Pak Tua gembira karnanya.

(Kutipan-kutipan dialog di atas kutulis hanya sebatas yang bisa kuingat, jadi tidak seutuhnya seperti yang dikatakan Putu)

Pesan yang bisa kutafsirkan dari cerita tersebut adalah bahwa kemerdekaan hanya bisa dinikmati oleh orang–orang yang menghargai kemerdekaan. Kemerdekaan yang datang terlalu tiba-tiba tidak akan memberikan kebahagiaan, hanya penderitaan. Kemerdekaan tidak memberikan kebahagiaan secara langsung dan seketika. Kebahagiaan datang tidak secara tiba-tiba tapi diraih secara perlahan-lahan, penuh perjuangan, perlu bersusah-susah dahulu.

Putu membawakan monolognya dengan apik. Banyak kejutan-kejutan yang terasa seperti permen Dinamit; awalnya berasa mint; pedas, dan sedikit manis. Tapi ketika sudah dikulum lama, keluar coklat yang manis dan nyummy (analogi yang gak nyambung ya? Hehe—).
Meskipun suaranya serak—tidak seperti ketika pementasannya yang pernah kusaksikan tahun lalu, tapi tetap menggelegar. Interaksinya dengan penonton yang sebagian besar adalah anak SMU sangat cerdas dan keren. Kadang-kadang di tengah cerita ia menyuruh penonton tertawa, bertepuk tangan, bahkan ikut menirukan bunyi perkutut, kuukutekuuku…

Sekali, ia melucu dan berimprovisasi ketika properti panggung rusak. Seperti ketika tiang bendera goyang-goyang karena talinya tidak terikat kuat sehingga hampir jatuh. Ia pun nyeletuk, “Kok tiangnya kendor?” Sontak penonton tertawa melihatnya. Ia juga berimprovisasi lucu ketika sangkar yang dilempar-lemparkannya ke udara nyaris mengenai kepalanya. Ia berkelit dari sangkar itu, diikuti sura sorakan Eeaaa… dari penonton.

Gerakan Putu sangat lincah dan enerjik; naik kursi-turun kursi, menari, mengayunkan tongkat ke sangkar, kemudian menjambret sangkar dari gantungan, melemparkannya ke lantai.

Adegan terkerennya adalah ketika Putu meraup batang lidi dan dengan cepat kemudian melemparkannya ke arah sangkar sehingga batang-batang sapu lidi itu menancap ke rangka-rangka sangkar. Analoginya seperti kue yang ditaburi mises, hehe…

Kemudian adegan ketika ia menaburkan bubuk tepung putih untuk menggambarkan lepas dan terbangnnya dua ribu lima ratus burung perkutut ke udara. Efeknya sangat dramatis!

Peralihan tokoh pun dibawakannya dengan apik, ia sukses memberi garis tegas pada setiap tokoh-tokohnya. Tiap tokoh ia bawakan dengan suara, gaya tubuh, gerak dan dialek yang berbeda-beda sehingga karakter masing-masing tokoh jelas dan tidak kabur.

Seperti kata Nano Riantiarno dan Jajang C Noer yang juga hadir saat itu, Putu memang layak disebut sebagai salah satu maestro teater Indonesia, di samping Teguh Karya, Rendra, Arifin C Noer dan Nano Riantiarnio sendiri. Di usianya yang menginjak 65 tahun, sang maestro kita itu masih tetap energik, mengguncang dan menggebrak panggung.

/ana fauziyah, Rawamangun.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s