Komik, Kartun, Karikatur


Gambar sebagai salah satu bentuk komunikasi visual mengalami diferensiasi klasifikasi. Beberapa istilah yang dikenal untuk menyebut bentuk-bentuk seni gambar antara lain: komik, kartun, dan karikatur. Ketiga istilah tersebut sering tercampuradukkan satu sama lain. Kerancuan pengertian antara kartun, komik, dan karikatur timbul karena ketiga istilah tersebut sama-sama dipakai dalam bidang seni gambar dan belum memiliki batasan yang jelas dan masyarakat belum mempermasalahkan istilah-istilah tersebut secara teoritis.

Will Eisner dalam bukunya Graphic Storytelling (terbit tahun 1996) mendefinisikan komik sebagai tatanan gambar dan balon kata yang berurutan. Sebelumnya, di tahun 1989, dalam buku Comics and Sequential Art, Eisner mendefinisikan sebagai “Susunan gambar dan kata-kata untuk menceritakan sesuatu atau mendramatisasi ide.”[1] Sedangkan Scott McCloud mendefinisikannya  dengan pengertian sebagai berikut, “Komik adalah gambar-gambar dan lambang-lambang lain yang terjukstaposisi dalam urutan tertentu, bertujuan untuk memberikan informasi dan atau mencapai tanggapan estetis dari pembaca.”[2]

Tidak jauh berbeda dengan definisi McCloud, definisi komik seperti dikutip dari majalah BOBO adalah gambar yang disusun berurutan dan saling berhubungan.  Komik bisa dibuat dalam satu kotak atau lebih. Komik yang dibuat lebih dari satu kotak (panel, pen.) disebut komik strip. Ada juga yang dibuat bersambung dalam banyak kotak dan dibukukan, disebut buku komik.[3] Dengan demikian jika didefinisikan secara sederhana, komik adalah suatu bentuk seni yang menggunakan gambar-gambar tidak bergerak yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk jalinan cerita. Komik dapat diterbitkan dalam berbagai bentuk, mulai dari strip dalam koran, dimuat dalam majalah, hingga berbentuk buku tersendiri.

Sedangkan istilah kartun menurut Sunarto berasal dari kata bahasa Inggris cartoon yang berarti kertas tebal yang digunakan untuk membuat sketsa rancangan dalam pembuatan  fresco (lukisan dinding). Pada tahun 1843, balaikota London mengadakan sayembara pembuatan cartoon untuk lukisan dinding gedungnya. Hasil karya para peserta dipamerkan di balaikota. Saat itu Majalah satir “Punch” memuat gambar sindir karya John Leech berjudul Cartoon No.1, memprotes gagasan Balaikota yang dianggap pemborosan. Punch merupakan majalah satir yang menjadi media kritik kebijakan pemerintah yang tidak sesuai aspirasi masyarakat. Sejak itu kata cartoon mulai dipakai untuk menyebut gambar sindir. Secara sederhana, Sunarto mendefinisikan kartun sebagai “Gambar yang berisi kritikan, cerita jenaka, atau humor. Kartun biasa digambar dalam satu panel dengan atau tidak disertai kalimat penjelas (caption).[4]

Salah satu fungsi yang dimiliki kartun adalah untuk menyindir. Hal ini bisa disamaartikan dengan mengkritik. Paradopo menyatakan, “Kritik dalam artinya yang paling tajam adalah penghakiman (judgement).[5] Sebagai penghakiman, kritik merupakan hasil pertimbangan terhadap situasi yang terjadi. Kartun dapat menampilkan satir dari peristiwa aktual dan ejekan terhadap berbagai tingkah laku yang memasyarakat dan merupakan alat protes dalam bentuk banyolan. Bonneff secara luas mengungkapkan bahwa tokoh di dalam kartun yang sama dari hari ke hari, dari minggu ke minggu seringkali menjadi juru bicara kritik sosial atau sebaliknya, menjadi korban dari sebuah sistem. Di tengah banyolan, tokoh yang sangat dikenal itu membentuk ciri khas, berjuang dalam kehidupan sehari-hari yang penuh suka duka. Tokoh tersebut juga bergerak dalam lingkungan sehari-hari, punya kenalan, kerabat, dan kenalan—bergantung pada suasana yang ingin diciptakan kartunis.[6]

Fungsi kritik tersebutlah yang menjadikan kartun sebagai salah satu modal media massa/pers dalam melakukan kritik terhadap situasi politik atau sosial yang sedang berkembang. Media massa/pers yang selain memiliki fungsi menyampaikan informasi, juga berfungsi sebagai media hiburan, media pendidikan, media propaganda, alat kontrol terhadap pemerintah atau jalannya pemerintahan—dirujuk dengan istilah ‘anjing penjaga’ (watch dog)—dan juga sebagai alat dokumenter sejarah kehidupan masyarakat tertentu secara sinkronis. Dalam menjalankan fungsinya, media massa tidak hanya memproduksi berita, tetapi juga editorial, foto, iklan, dan lain sebagainya termasuk kartun.

Berdasarkan sasaran kritik, Hidayat menggolongkan kartun menjadi tiga jenis, yaitu: 1) kartun politis, merupakan kartun yang mengangkat permasalahan politik yang sedang terjadi. Kartun jenis ini biasa terdapat di media massa, digunakan untuk menyampaikan pandangan politis suatu media; 2) kartun sosial, merupakan kartun yang mengangkat permasalahan sosial yang terjadi. 3) kartun moral, merupakan kartun yang digunakan untuk mengungkapkan suatu nilai moral tertentu.[9]

Adapun ragam kartun antara lain: 1) kartun murni (gags cartoon), kartun yang dimaksudkan sebagai gambar lucu untuk mengolok-olok tanpa bermaksud mengulas suatu permasalahan atau peristiwa aktual; 2) kartun animasi, kartun yang dapat bergerak atau hidup, yang terdiri dari susunan gambar yang direkam dan ditayangkan di televisi atau layar film, disebut juga film kartun; 3) kartun komik, kartun yang terdiri atas kotak-kotak (panel) yang menampilkan alur cerita; 4) kartun editorial (editorial cartoon), kartun yang  menitikberatkan misinya pada kritik dan yang merupakan visualisasi editorial/ tajuk rencana sebuah media cetak; 5) kartun politik (political cartoon), kartun yang  menitikberatkan sasarannya pada masalah-masalah politik.[10]

Kata karikatur berasal dari bahasa Italia, caricature/caricatura yang berarti memuat, istilah ini diperkenalkan oleh Sir Thomas Browne di majalah Christian Morals pada tahun 1716.[11] Setiawan mengemukakan, “Karikatur merupakan potret wajah yang diberi muatan lebih sehingga anatomi wajah tersebut terkesan distortif kerena mengalami deformasi bentuk, namun secara visual masih dapat dikenali bentuknya.”[12] Sedangkan Sudarta menyatakan, “Karikatur merupakan deformasi berlebihan atas wajah seseorang, biasanya orang terkenal, dengan ‘mempercantiknya’ dengan penggambaran ciri khas lahiriahnya untuk tujuan mengejek.”[13]

Secara sederhana, karikatur didefinisikan sebagai ilustrasi humor yang melebih-lebihkan atau menyimpang dari bentuk dasar dari manusia (biasanya selebritis atau politikus) atau sesuatu yang diidentikkan atau memungkinkan untuk diidentifikasi dengan kesamaan penggambaran. Karikatur jika sudah diberi beban pesan, kritik, dan sebagainya adalah bagian dari kartun opini. Dengan kata lain, karikatur yang membawa pesan kritik sosial, yang muncul di setiap penerbitan surat kabar adalah political cartoon atau editorial cartoon, yakni versi lain dari editorial, atau tajuk rencana dalam versi gambar humor.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa ketiga istilah komik, kartun, dan karikatur memiliki makna yang berbeda. Komik adalah suatu bentuk seni yang menggunakan gambar-gambar tidak bergerak yang disusun sedemikian rupa dalam beberapa panel sehingga membentuk jalinan cerita. Dan kartun adalah gambar yang berisi sindiran, kritikan, cerita jenaka, atau humor dan digambar dalam satu panel.  Karikatur adalah kartun yang mendeformasi bentuk lahiriah seseorang dengan tujuan tertentu.

Pendefinisian yang kerap menimbulkan kerancuan antara komik dan kartun ditolak McCloud secara tegas. Ia mengatakan bahwa memang ada hubungan yang dekat antara komik dengan kartun, tetapi keduanya berbeda. Komik menurut McCloud[14] merupakan pendekatan ketika membuat film—atau sebuah gaya—sedangkan kartun adalah media yang sering menggunakan pendekatan tersebut. Dengan kata lain, komik adalah metode dalam seni gambar, sedangkan kartun adalah bentuk seni gambar yang menggunakan metode komik dalam penyampaiannya.


[1] Diakses dari http://groups.yahoo.com/group/pakarti/message/1126 pada tanggal 03 April 2009

[2] Scott McCloud, Understanding Comics (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2002) hlm. 20.

[3] “Mengenali Jenis-jenis Gambar”, artikel dalam Majalah BOBO (Jakarta), 4 Juni 2009.

[4] Priyanto Sunarto, “Metafora Visual Kartun Editorial pada Surat Kabar Jakarta 1950-1957″ (Disertasi, Institut Teknologi Bandung), Diakses dari www.desaingrafisindonesia.files.com pada tanggal 03 April 2009.

[5] Rahmat Djoko Pradopo, Prinsip-prinsip Kritik Sastra, (UGM Press: 1994) hlm. 10.

[6] Marcell Bonneff, op. cit, hlm. 58.

[7] Ayu Ida Savitri, “Interpretasi Strip Komik Peanuts: Peristiwa Budaya yang Berlangsung di dalamnya”, (Tesis, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, 2006) hlm. 19

[8] Marcell Bonnef, loc. cit.

[9] Agung Suharjanto, “Strategi Kesantunan Pada Kartun lagak Jakarta” (Skripsi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok: 2006) hlm. 25

[10] Diakses dari www.geocities.com/adepepe/kartoen.html pada tanggal 10 April 2009

[11] Diakses dari http://groups.yahoo.com/group/pakarti/message/1126 pada tanggal 03 April 2009

[12]Agung Suharjanto, op. cit., hlm. 23.

[13]Alex Sobur, op. cit., hlm. 138-139.

[14] Scoot McCloud, op. cit., hlm. 21.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s