Orang-orang Sebrang Kali, Cerpen Ahmad Tohari


Cerpen Orang-orang Seberang Kali berkisah tentang seorang penyabung ayam bernama Madrakum yang sudah lama sakit payah dan sekarat. Meskipun begitu, Madrakum belum meniggal dunia. Oleh karena itu, salah satu kerabatnya yang bernama Kang Samin berinisiatif menemui tokoh ulama di desa seberang—desa mereka hanya dibatasi sebuah kali kecil—untuk meminta pertolongan, yaitu dengan membacakan do’a-do’a agar Madrakum segera meninggal dan tidak merasakan kepayahan lagi.

Ulama tersebut pun datang ke rumah Madrakum. Ia membacakan surat Kursi di hadapan Madrakum yang sudah terlihat payah. Tak disangka, hanya berselang beberapa saat setelah ulama itu meninggalkan rumahnya, Madrakum bangkit. Lalu membuat gerakan-gerakan persis ayam jago sedang menggombal betinanya. Kemudian ia keluar halaman, berdiri tegak dengan mata liar. Ia mengepakkan tangannya seperti sayap, selanjutnya berkokok nyaring berkali-kali. Suaranya mirip sekali dengan ayam jago peliharaannya sehingga seluruh ayam jago di desa itu menyahut kokokannya. Dan tak lama kemudian Madrakum rebah ke tanah, ia mati.

Gaya bahasa Ahmad Tohari dalam cerpen ini lugas, jernih, dan juga sederhana, di samping kuatnya metafora dan ironi. Gaya pengucapan Tohari pada cerpen nampak lebih kental, padat dan langsug pada pokok permasalahan, sehingga makin mempertegas pesan kepengarangannya. Kekuatannya terletak pada penggambaran latar alam pedesaan yang lengkap dengan potret dunia flora dan fauna. Seperti dalam karya-karya Ahmad Tohari yang lain, misalnya Ronggeng Dukuh Paruk, Kubah, Di Kaki Bukit Cibalak, dsb.

Ahmad Tohari selalu menyingkap soal lingkungan hidup yang jarang dijamah atau dijadikan latar oleh pengarang Indonesia. Namun, hal itu justru menjadi salah satu daya pikat karya-karya Ahmad Tohari. Mari kita lihat bagaimana Ahmad Tohari begitu kuat mendeskripsikan latar karyanya, seperti dalam kutipan berikut:

 Kami menyebut mereka orang-orang seberang kali. Terlalu berlebihan sebenarnya karena mereka tinggal tidak lebih dari seratus meter dari kami. Dan yang disebut kali itu sebenarnya hanya sebuah parit alam yang dalam. Kedua tebingnya curam dan penuh ditumbuhi pakis-pakisan. Hanya di  tempat-tempat tertentu air parit itu kelihatan dari atas. Bening, karena keluar langsung dari mata air. Tapi, air itu jadi tidak menarik karena dikotori banyak sekali sampah daun bambu serta substansi apa namanya yang berwarna kuning sekali. Kami menyebutnya kotoran kuning atau tahi besi.

Orang-orang sebelah kali itu betapa jua adalah bagian dari warga desa kami. Tapi memang, kami merasa punya jarak dengan mereka. dan sebuah titian batang pinang yang harus kami lalui bila kami ingin pergi kepada mereka seakan menjadi simbol jarak itu. Ah, sebuah titian yang tak pernah luput dari kotoran anak-anak mereka. Di bawahnya banyak sekali kepiting batu berfoya-foya dengan makanan lunak sepanajang hari. Pada musim kemarau kepiting lenyap entah ke mana. Air kali kecil sekali. Dan kakus orang-orang seberang kali itu menjadi tempat yang meriah bagi burung-burung sikatan dan kadal. Mereka berpesta makan lalat. (Tohari, 2005:52)

Sebagai bagian dari latar, Ahmad Tohari memasukkan kebudayaan masyarakat pendukung latar, yaitu kesenangan menyabung ayam. Kegiatan menyabung ayam seolah sudah menjadi budaya tradisional yang dalam cerpen tersebut tidak bisa dilepaskan dari kehidupan ‘orang-orang seberang kali’. Dalam hal ini, Ahmad Tohari mendeskripsikannya sebagai berikut:

… Orang-orang seberang kali ini memang menganggap adu ayam adalah bagian terpenting dalam hidup mereka. di sana Madrakum menjadi botoh-nya.

Bisa jadi karena soal adu ayam itulah maka terbentang jarak antara kami dengan mereka. kami memeang tidak pernah main adu-aduan. Bisa juga karena banyak di antara kami beberapa kali kehilangan ayam. Ah, anak-anak orang di seberang kali itu juga sudah pintar bermain ayam. Dengan cara mencuri-curi, anak-anak mereka suka mengadu ayam kami yang sedang berkeliaran di pekarangan dengan ayam mereka tentu saja. Selagi berlaga, ayam siapapun pun akan gampang ditangkap. (Tohari, 2005:53)

Unsur budaya lokal yang juga menjadi poin penting dalam cerpen ini adalah kuatnya kepercayaan terhadap mitos bahwa cara meninggal seseorang sangat ditentukan bagaimana ia berperilaku selama hidupnya. Bagaimana seseorang itu menyibukkan diri selama kehidupannya, apakah dengan hal-hal baik atapkah dengan hal-hal yang buruk, dan hal itu dapat diketahui ketika seseorang itu meninggal dunia. Dan juga mitos bahwa sesorang yang meninggalnya ‘gampang’  adalah seseorang yang baik, begitupun sebaliknya.

Dalam cerpen ini, diceritakan tentang kematian Madrakum yang unik. Sebelum ajal menjemputnya, Madrakum lebih dulu mengalami sakit yang payah dan sekarat, namun tidak juga menutup mata. Dan ketika akhirnya ia meninggal dunia, sebelum kematiannya itu ia sempat bertingkah aneh, yaitu berkokok nyaring laiknya yam jago aduannya. Peristiwa kematiannya itu disangkutpautkan dengan pekerjaan Madrakum selama hidupnya yang suka menyabung ayam dan menjadi botoh bagi warga desanya. Perhatikan salah satu paragraf berikut ini:

… Aku sependapat dengan Kang Samin; Madrakum dalam keadaan sekarat. Sekarat Madrakum memang lain. Si sakit yang kelihatannya sudah demikian lemah, kadang-kadang mendadak jadi penuh tenaga. Kedua kakinya mencakar-cakar, kedua tangannya mengepak-epak. Kemudian diam dan melemah lagi. Dan dari rongga mulutnya terdengar suara aneh. (Tohari, 2005:55)

Di tengah gemerlap kebudayaan populer yang umumnya berlatar restoran, kampus, mobil, dan handphone. Ahmad Tohari telah menciptakan dunia yang mengkin terasa asing bagi kita yang telah menjadi bagian dari masyarakat urban. Latar cerita dunia pedesaan yang lugu, kumuh telanjang, bodoh, kumuh, dan alami, dalam karya Ahmad Tohari digambarkan menjanjikan kedamaian tanpa pamrih. Dunia pedesaan adalah dunia yamg jujur, dan senantiasa, mengutamakan keharmonisan dan keselarasan hubungan dengan makhluk dan dunia sekitarnya.

Kekuatan latar itu jadi terasa pas karena yang tampil sebagai tokoh sentralnya adalah warga desa dari kalangan wong cilik. Dalam cerpen ini terlihat dengan penokohan Madrakum yang merupakan botoh ayam. Madrakum digambarkan sebagai warga desa seberang kali yang termasuk disegani karena memiliki ayam jago aduan terbaik. Tokoh Kang Salim memiliki karakter seperti kebanyakan warga desa lainnya yang terbuka, berpikir sederhana, soliter, dan mampu menertawakan kepahitan hidup dengan cara apa adanya. Sedangkan tokoh’aku’ yang berperan sebagai ulama digambarkan berkarakter pengamat, suka membantu, dan memiliki tenggang rasa.

Lewat para tokoh dalam cerpennya itu, Ahmad Tohari seolah-olah mewakili teriakan rakyat kecil atau masyarakat petani miskin, bodoh dan melarat. Dengan demikian terasa sangat menyentuh masalah-masalah manusia yang paling asasi. Ia jadi bebas menyapa kita tentang tanggung jawab kemanusiaan. Ia juga tak merasa terikat untuk berbicara dengan apapun: tetumbuhan, binatang, angin, tanah, dan sesama makhluk Tuhan. Inilah pesan persaudaraan yang berwawasan lintas budaya dan lintas derajat antarmakhluk yang ingin disampaikan Ahmad Tohari dalam karyanya. Sebuah pesan terselubung, yakni hasrat untuk menjalin persaudaraan sesama makhluk ciptaan Tuhan, suatu keinginan untuk bercengkrama dengan segenap penghuni jagat raya.

Berbagai anasir dalam uraian di atas membawa kita pada kesimpulan bahwa cerpen Orang-orang Seberang Kali karya Ahmad Tohari ini memang memiliki unsur lokalitas yang kuat, adapun latar penceritaan adalah suatu daerah di Jawa. Hal itu terlihat dari deskripsi latar pedesaan, bedaya tradisional, mitos budaya yang berkembang, dan nama-nama tokohnya yang kesemuanya itu menyiratkan unsur ke-Jawa-an. Orang kecil di dunia pedesaan memang merupakan ciri khas dunia rekaan Ahmad Tohari; tidak adanya hasrat untuk menjadikan dunia tersebut gemerlapan juga menjadi kekhasannya, yang membedakannya dari karya-karya populer.

Tohari, Ahmad. 2005. Senyum Karyamin (kumpulan cerpen). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s