Tahun Baru dan Perayaan Konsumsi


Ana Fauziyah:

Perayaan tahun baru merupakan mitos bentukan media dan produsen. Kita dipaksa percaya ada dunia gemerlap di sana saat pergantian tahun, membuat kita merasa aneh jika tahun baru hanya duduk-duduk saja di beranda rumah. (Na)

Originally posted on :

 

Dianing Widya, novelis, pegiat sosial di Spirit Kita, @dianingwy

 

PERGANTIAN tahun tinggal beberapa hari lagi. Jauh-jauh hari, orang-orang menyiapkan beragam acara untuk menyambut pergantian tahun. Artis-artis kebanjiran “job”, tiket acara pergantian tahun di hotel-hotel laris, berbagai tempat hiburan dan wisata segera disesaki pengunjung, dan seterusnya. Ya, setiap malam pergantian tahun, berbagai perhelatan yang beraroma pesta digelar.

Semua terbuai dalam ritual tahunan itu. Orang yang melewatkan tahun baru tanpa hura-hura, tanpa keluar rumah, tanpa mengunjungi hotel berbintang, tanpa terompet, tanpa pesta kembang api, bisa dianggap aneh. Sebab, benda-benda itu – paling sederhana adalah terompet – telah menjadi properti wajib di setiap tahun baru.

View original 550 more words

Teknik Analisis Semiotika untuk Kartun/Komik


Kartun adalah bentuk semiotika visual. Tanda visual dan linguistik dalam kartun saling membentuk argumen serta metafor yang menarik untuk diperhatikan. Selain itu ground yang dibutuhkan untuk memahami jalinan representasinya tidak terlalu jauh dari pengalaman kita. Sebagian besar pembaca akan mudah menangkap ikonitas tanda visualnya. Dalam analisis semiotika analysis text  terdapat dua tingkat pertandaan, yaitu pertama, analisis tanda secara individual dan kedua, analisis tanda dalam kelompok.

Pada analisis tanda secara individual dapat digunakan berbagai model analisis tanda, misalnya analisis tipologi tanda, struktur tanda, dan makna tanda. Pada analisis tanda-tanda di dalam kelompok atau kombinasinya disebut analisis teks (textual analysis). Semiotika teks dalam hal ini tidak berhenti hanya menganalisis tanda (jenis, struktur, makna) secara individu, akan tetapi melingkupi pemilihan tanda-tanda yang dikombinasikan ke dalam kelompok pola-pola yang lebih besar (teks), yang di dalamnya direpresentasikan sikap, ideologi, atau mitos tertentu yang melatarbelakangi kombinasi tanda-tanda tersebut.[1]

Yang pertama kali dilakukan dalam analisis secara individual, adalah medeskripsikan tanda visual berdasarkan kaidah spasial. Gambar dideskripsikan menurut unsur-unsur yang mendukungnya, antara lain garis, warna, kontur, dan sebagainya. Pertandaan pada tingkat ini akan menghasilkan makna primer (denotasi).  Kemudian pada analisis tanda secara kelompok, tanda dianalisis lebih lanjut pada tataran kedua disertai interpretasi teoritis, sehingga dihasilkan makna tersembunyi atau konotasi.

Pertama, melakukan pembacaan berulangkali pada objek penelitian. Kemudian menandai dan memilah teks-teks yang  menunjukkan adanya tanda budaya. Teks terpilih yang menunjukkan tanda budaya disebut sebagai data.

Kedua, analisis pada tahap ini adalah analisis data secara individual yang termasuk dalam pemaknaan semiotika tingkat pertama. Seluruh data yang berhasil dikumpulkan pada tahap pertama dianalis menurut kaidah spasial dan dideskripsikan menurut unsur-unsur komik yang mendukungnya, antara lain karakter, ekspresi wajah, dialog dalam balon kata, garis gerak, latar, aksi,  panel,  closure, serta bahasa verbal.

Aspek rupa objek kartun diteliti melalui telaah rupa dasar  (bentuk, teknik, corak, susunan) dengan representasi gambar yang muncul melalui rupa dasar. Bentuk gambar ikonik tersebut dibaca melalui berbagai tanda yang muncul untuk menafsirkan makna gambar sesuai dengan konteks peristiwanya. Dalam tahap ini, pemaknaan yang dihasilkan adalah tataran denotatif. Pada tataran ini hasil analisis memuat deskripsi data secara harfiah, jalan cerita umum, dan interaksi tokoh.

Ketiga, analisis pada tahap ini adalah analisis data secara kelompok yang termasuk dalam pemaknaan semiotika tahap kedua dan menghasilkan makna konotatif. Seluruh data yang telah dikumpulkan pada analisis tahap pertama dan telah dianalisis pada tahap kedua diinterpretasi dan diklasifikasi.

Keempat, pada tahap terakhir dilakukan penarikan kesimpulan dari hasil interpretasi data. Selain mengemukakan beberapa temuan pokok penelitian, juga dikemukakan beberapa implikasi yang sifatnya praktis.


[1] Yasraf Amir Piliang, op. cit., hlm. 271.

Semiotika Interpretatif untuk Konsumerisme


Semiotika mengekplorasi produksi dan pemakaian peta makna. Ia dapat dideskripsikan sebagai permainan bahasa atau pembentukan wacana yang terkait dengan isu kekuasan dalam praktik signifikasi manusia.[1] Praktik signifikasi tersebut berpusat pada pertanyaan tentang representasi, yaitu bagaimana dunia ini dikonstruksikan dan direpresentasikan secara sosial kepada kita. Dalam hal ini, Barker mengemukakan, “Representasi dan makna budaya memiliki matrealitas tertentu yang melekat pada bunyi, prasasti, objek, citra, buku, majalah, program televisi, atau yang lain. Mereka diproduksi, ditampilkan, digunakan, dipahami dalam konteks sosial tertentu.”[2]

Berdasarkan definisi di atas, konsumerisme yang mengacu pada sebuah hidup yang dipenuhi dengan konsumsi secara berlebihan dalam rangka pembentukan identitas berada dalam wilayah kajian semiotika, sebab di dalamnya bermain tanda-tanda, dan simbol-simbol sebagai alat identifikasi yang merepresentasikan pelakunya dalam kategori-kategori sosial sekaligus menyelidiki tentang cara dihasilkannya makna pada beragam konteks. Orientasi penelitian ini berada pada kajian tentang cultural consumption yang menekankan bahwa makna selalu diproduksi, diubah, dan diatur pada level konsumsi pencipta aktif makna (konsumen kreatif).[3] Aktor yang dalam hal ini adalah tokoh dalam karya sastra merupakan pencipta aktif makna. Ia mengkonstruksi makna-makna dalam kegiatan konsumsi dan mengkomunikasikan terhadap pembaca.

Metode interpretatif yang bersifat kualitatif, yaitu suatu metode yang memfokuskan dirinya pada tanda dan teks sebagai objek kajiannya, serta bagaimana peneliti menafsirkan dan memahami kode di balik tanda dan teks tersebut. Metode kualitatif merupakan metode yang sesuai karena dengan metode ini dimungkinkan untuk 1) memahami pengalaman serta praktik-praktik kegiatan yang berkaitan dengan konsumsi dan produksi makna teks budaya,  2) mengungkap dinamika dalam aspek produksi dan konsumsi makna, 3) mendapatkan variasi dan perbedaan konsumen secara kultural dalam memproduksi dan mengonsumsi makna.[4]

Salah satu dari metode semiotika interpretatif tersebut adalah metode analisis teks (textual analysis). Piliang menjabarkan bahwa metode semiotika interpretatif pada dasarnya beroperasi pada dua jenjang analisis. Pertama analisis tanda secara individual. Kedua, analisis tanda sebagai sebuah kelompok atau kombinasi, yaitu kumpulan tanda-tanda yang membentuk apa yang disebut sebagai teks (text).

Teks dalam pengertiannya yang paling sederhana adalah “kombinasi tanda-tanda”.[5] Yang dimaksudkan teks di sini bukan hanya merujuk pada kata-kata tertulis, melainkan semua praktik yang memiliki makna. Ini termasuk pembentuan makna melalui berbagai citra, bunyi, objek, dan aktivitas lain. Seperti yang dikatakan Barker sebagai berikut:

Citra, bunyi, objek, dan aktovistas pada dasarnya merupakan sistem tanda yang memaknai dengan sistem yang sama dengan bahasa, sehingga kita dapat menunjukkanya sebagai teks budaya. Makna diproduksi dalam interaksi antara teks dan pembacanya, sehingga momen konsumsi juga merupakan momen produksi yang penuh makna.[6]

Tipe-tipe teks yang paling jelas adalah kalimat yang ditulis di dalam sebuah novel, atau fashion yang dikenakan oleh seseorang. Masing-masing teks ini mempunyai aksis paradigmatik dan sintagmatiknya yang khusus. Kata-kata pada novel atau unsur-unsur pakaian dalam fashion dapat dapat dianggap sebagai kumpulan tanda-tanda yang secara bersama-sama membentuk verbal text dan fashion text.[7]


[1] Chris Barker, op. cit., hlm. 36.

[2] Ibid., hlm. 9.

[3] Ibid. hlm. 48.

[4] Rahma Sugihartati, Membaca, Gaya Hidup dan Kapitalisme, (Jogjakarta: Graha Ilmu, 2010), hlm. 17.

[5] Yasraf Amir Piliang, op. cit., hlm. 270.

[6] Chris Barker, op. cit., hlm. 11.

[7]Yasraf Amir Piliang, op. cit., hlm. 270.

Konsumsi Olahraga


Konsumsi olahraga menguatkan ideologi tentang konsumerisme sebab olahraga telah dipisahkan dari aktivitas fisik menjadi sekadar tontonan. Dalam dunia yang dibangun oleh dominasi produksi dan konsumsi, olahraga telah menjadi bisnis yang menggiurkan. Produser “menyediakan” solusi pelarian (hiburan) bagi masyarakat lewat tontonan olahraga dan sekaligus mengomersialkannya.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa para kapitalis mendominasi olahraga sebagai bisnis. Mereka memproduksi keinginan-keinginan baru dan menciptakan nilai-nilai baru pula. Hal tersebut menyebabkan seseorang menjadikan konsumsi olahraga sebagai kebutuhan.

Salah satu faktor yang paling berperan dalam industri olahraga adalah televisi. Sudjatmiko menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan televisi menginvestasikan uang dalam jumlah yang sangat besar dengan pemahaman bahwa hal tersebut merupakan cara yang dipastikan dapat menarik penonton.[1]

Para pengusaha iklan tertarik dengan harapan bahwa para pendukung yang amat setia dengan tim mereka akan menginvestasikan hal serupa di dalam produk yang mereka sampaikan. Seperti para pendukung yang senantiasa siap mengeluarkan uang mereka untuk menyaksikan pertunjukan tim kesayangan mereka.


[1] Haryanto Soedjatmiko, Saya Berbelanja Maka Saya Ada., hlm. 80-81.

Konsumsi Musik Pop


Industri musik merupakan bisnis besar. Bisa dikatakan, industri musik merupakan pemain utama di dalam proses globalisasi. Di dalam industri musik terjadi dua aktivitas ganda yaitu formulasi musik dan penghasilan modal. Musik pop menjadi produksi mode besar-besaran yang seragam, dalam arti menstandardisasi selera konsumen sehingga mereka mengikuti saja arus yang sudah diprogram.

Yang dilakukan industri musik pop tidak lain adalah memaksimalkan keuntungan tanpa memperhitungkan seni bermusik itu sendiri. Tidak salah jika kemudian industri musik lebih mementingkan penampilan luar daripada subtansi dan kreativitas musik.

Seni musik dalam hal ini berkembang sesuai takaran keuntungan. Jenis musik apa yang sedang tren dan paling memiliki nilai jual, itulah yang diproduksi. Di sisi lain, masyarakat tidak menyadari skenario tersebut, mereka mengonsumsi musik pop dalam rangka mengidentifikasi diri sebagai bagian dari kelompok tertentu, pengikut aliran musik tertentu, atau penggemar penyanyi tertentu.

Konsumsi Ruang & Tempat


Dalam masyarakat modern, aktivitas berbelanja merupakan suatu bentuk pelepasan hasrat sekaligus membentuk identitas. Representasi identitas tertentu dilihat dari di mana mereka berbelanja. Dalam hal ini, seseorang yang berbelanja di mal dengan seseorang yang berbelanja di pasar tradisional dianggap memiliki perbedaan status. Mal dapat dikatakan sebagai surga bagi konsumerisme. Mal tidak hanya merupakan tempat berbelanja, namun lebih jauh lagi menciptakan imaji tentang dunia “ideal” dan mendorong perilaku konsumtif.

Sebagai simbol gengsi, mal didesain sangat nyaman dan mewah juga didukung sarana dan prasarana yang lengkap. Ia menghadirkan berjuta kenikmatan yang menciptakan kebanggaan tersendiri bagi pengunjungnya dan menjadi budaya warga yang mengejar status dan gengsi. Seseorang bisa saja dicap “tidak gaul” atau kampungan jika tidak pernah mengunjungi mal. Ritual belanja dan beraktivitas di mal secara tidak langsung kemudian menggantikan ritual-ritual tradisional seperti ritual belanja di pasar, ritual pertemuan bisnis di kantor, dan ritual berolahraga di lapangan, sebab semuanya bisa dilakukan di dalam mal.

Konsumsi Teknologi


Perkembangan teknologi telah membawa akibat yang signifikan bagi bentuk konsumsi kontemporer. Teknologi informasi dan komunikasi hadir sebagai unit pokok budaya konsumsi. Kemajuan teknologi telah menjerat mereka dalam dunia konsumerisme yang penuh pesona dan berperan dalam membentuk masyarakat konsumer. Inovasi teknologi berdampak negatif  bagi pengalaman hidup konsumen, sebab ketika para produser melakukan inovasi-inovasi, yang terjadi kemudian adalah teknologi tidak mengembangkan dan memperbaiki demi teknologi itu sendiri, melainkan demi keuntungan pasar.

Teknologi menguasai masyarakat di berbagai bidang; komunikasi, hiburan, ekonomi, dan lain sebagainya, termasuk merasuki budaya populer. Masuknya teknologi dalam budaya populer tak lepas dari taktik dominasi kapitalis. Dengan kata lain, konsumen ditawari berbagai kecanggihan teknologi, membuat mereka tergiur untuk membeli tanpa mempertimbangkan aspek fungsi dan sekadar ikut-ikutan tren.

Lebih jauh lagi, teknologi tidak serta merta memenuhi kebutuhan konsumen. Winner menyebutkan tiga paradoks.[1] Pertama, teknologi tidak mengembangkan kemampuan manusia, tetapi hanya menjejali konsumen yang kurang kompeten. Dalam hal ini, terjadi paradoks intelegensia (paradox of intelligence). Kedua, teknologi pada awalnya ditujukan agar menciptakan waktu senggang untuk ekspresi diri. Nyatanya, di masa sekarang teknologi hanya membanjiri kehidupan sosial dengan sistem komunikasi multimedia. Manusia malah menjadi terikat dengan benda-benda teknologi di manapun mereka berada. Inilah yang disebut dengan paradoks suasana hidup (paradox of lifespace).

Dan yang ketiga adalah paradoks demokrasi elektronis (paradox of electronic democratic). Teknologi dianggap sebagai sebuah pemaknaan demokratis, kenyataannya misalnya masyarakat tidak pernah merancang program televisi, mereka hanya menikmatinya. Situasi tersebut tidak bisa disebut demokratis karena konsumen terpisah dengan praktik nyata demokrasi itu sendiri. Anggapan bahwa teknologi dapat memperbaiki kehidupan konsumen pada akhirnya justru memunculkan kesenjangan sosial. Hal itu terjadi ketika teknologi dipakai untuk memaknai dan menandai kelas, status, komunitas, kebebasan, dan sebagainya.


[1 Haryanto Soedjatmiko, Saya Berbelanja Maka Saya Ada, hlm. 61.